Rabu, 21 Juli 2010

FILSAFAT AL-QUR'AN :

A. Pendahuuan
Manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia ini bagaikan orang dalam perjalanan menuju suatu tempat, di mana dia tidak tahu arah yang dapat menyampaikannya kepada tujuan tersebut, bahkan juga terkadang keliru dalam menentukan tujuan hidup, karena ketidaktahuannya tentang hakikat kehidupan ini. Dalam kehidupan ini terdapat pula banyak hal yang dapat menyesatkan manusia, dan banyak jalan atau idiologi yang menggoda di mana masing-masing idiologi menjanjikan kebahagiaan bagi manusia. Jika manusia tidak selektif dalam memilih manhaj hidupnya, maka dia akan menyesal. Sebab, Iblis sebagai musuh manusia selalu berpenampilan meyakinkan dalam menggoda agar manusia menuruti jalannya. Iblis telah bersumpah, bahwa dia benar-benar akan menduduki jalan Tuhan untuk menggoda manusia agar manusia tidak mengikuti jalan itu. Dia juga berjanji akan datang menggoda dari depan, belakang, dari kiri, dan dari kanan . Jadi, keselamatan manusia benar-benar terancam. Iblis setiap saat menggunakan kesempatan menghancurkan kebahagiaan manusia.
Tuhan Maha Kasih, Dia tidak rela manusia itu tersesat maka Dia-pun mengirimkan para rasul dengan membawa risalāh ilāhiyah untuk menyelamatkan manusia. Dia menurunkan al-Qur'an kepada Muhammad saw. memberikan petunjuk jalan kehidupan. Hidayah al-Qur'an, yang dibawa Muhammad saw, berguna bagi seluruh umat manusia, tidak hanya untuk umat Islam tetapi juga umat lainnya, seperti yang digambarkannya bahwa ia sebagai hudan li al-nās dan rahmah li al-`ālamīn . Kitab Suci tersebut menjelaskan arti atau hakikat kehidupan dan segala yang ada. Apa sesungguhnya kehidupan ini? Dari mana semua yang ada ini berasal? Serta apa manfaatnya bagi manusia?. Al-Qur'an memberikan jawaban terhadap persoalan ini. Bahkan perbincangan mengenai hal tersebut tidak hanya menyangkut alam ini tetapi juga manusia itu sendiri.
Al-Qur'an memperbincangkan semua persoalan di atas. Bahkan Kitab Suci ini tidak hanya memperbincangkannya saja, tetapi mendorong manusia agar mencari tahu tentangnya. Al-Qur'an menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan segala yang maujud. Manusia dituntut mengkaji fenomena alam, yang meliputi benda-benda dan sistem yang berlaku padanya, agar manusia mempunyai pengetahuan mengenainya. Al-Qur'an tidak hanya menuntut manusia agar memiliki pengetahuan mengenai fenomena alam dan sistem yang berlaku padanya saja, tetapi lebih jauh dari itu, manusia dituntut pula mengkaji sehingga dikatahui sumber utama fenomena dan penentu sistem yang berlaku. Artinya, Islam memandang pengkajian terhadap fenomena alam dan penemuan hukum alam mengenainya belumlah cukup. Ia mesti berorientasi kepada Penentu Utama dan berujung kepada pengakuan atau pembentukan serta pengembangan akidah tauhid, di mana Allah sumber segalanya; tidak hanya sumber kewujudannya tetapi sumber pengetahuan mengenainya. Sebab Dia Penentu dan Pembuat, justru itu pengetahuan mengenainya juga bersumber dari-Nya.
Tidak ada yang tersisa dalam perbincangan al-Qur'an mengenai persoalan di atas , sekalipun sebenarnya manusia perlu melakukan penafsiran-penafsiran agar lebih dipahami secara rinci dan ditail yang tentu saja penafsiran itu bisa sesuai dengan apa yang Allah maksudkan atau juga bisa tidak. Ia memuat gagasan, pandangan, dan ide mengenai segala sesuatu – tentunya dalam perspektif Islam yang bisa saja berbeda dengan lainnya - yang berkiatan dengan manusia dan kemanusiaan, termasuk ilmu pengetahuan. Gagasan dan pandangan tersebut merupakan pesan-pesan ilahi kepada umat manusia melalui Muhammad saw, di mana jika dituruti dapat membuat manusia hidup harmonis.
Kitab Suci ini juga banyak berbicara tentang ilmu pengetahuan, mulai dari dorongan terhadap manusia menguasai ilmu sampai kepada fenomena alam yang menyimpan rahasia ilmu pengetahuan tersebut. Manusia dituntut membuka rahasia itu sehingga dapat diketahui dan dapat pula digunakan bagi kepentingan manusia hidup di dunia dan di akhirat. Motivasi al-Qur'an inilah yang membangkitkan semangat tokoh Islam masa klasik menekuni ilmu pengetahuan. Mereka merupakan mata rantai yang menghubungkan kemajuan ilmu masa Yunani dengan kegemilangan ilmu pengetahuan di masa sekarang ini. Dengan demikian, kemajuan ilmu pengetahuan modern tidak dapat dipisahkan dari mereka. Artinya, Islam sangat besar sumbangannya atas kemajuan ilmu pengetahuan modern termasuk kemajuan yang dialami Barat .
Penguasaan ilmu oleh umat Islam diilhami oleh al-Qur'an. Maka nuansa ilmu termasuk aktivitas pencariannya dikalangan Islam berbeda dari nuansa serta aktivitas yang dilakakukan oleh dunia Barat yang sekuler. Bandingkan, misalnya, model belajar Ibn Sina dengan Sigmund. Yang pertama, mempelajari pengetahuan betul-betul berangkat dari ketauhidan sehingga proses belajar dan pendekatan pembelajarannya juga mengarah kepada ketauhidan sucian kesucian akidah. Sedangkan yang terakhir, berangkat dari tataran yang tidak memiliki kemurnian akidah sehingga hasilnya juga melahirkan akidah yang kotor dan pandangan yang negatif terhadap manusia dan ajaran wahyu yang bersifat normativ.
Perbincangan di atas mengambarkan perbedaan-perbedaan paradigma, dimana perbedaan itu tentunya melahirkan hasil yang berbeda juga. Perbedaan pandangan mengenai hakikat wujud dan mawjud adalah berkaitan dengan sikap terhadap wujud atau mawjud itu sendiri. Maka membangun sikap dan pradaban islami perlu dimulai dari meletakkan pondasi berpikir islami, kemudian sama-sama berangkat membangun dari pondasi itu. Pondasi itulah yang penulis maksud dengan ontology dan epistemology al-Qur’an dalam tulisan ini. Hal ini berlaku pada semua sector pembangunan, mulai dari pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) sampai kepada pembangunan fisik.
Bangunan suatu sistem atau kerangka berpikir tidak dapat dipisahkan dari pandangan terhadap tiga hal, yaitu alam, manusia dan kehidupan . Sebab ketiga hal inilah yang menjadi perbincangan dan fokus utama dalam segala sistem yang dibentuk dan dibangun manusia, termasuk bangunan ilmu pengetahuan. Di mana tiga hal itulah yang menjadi garapan ilmu pengetahuan. Apa dan bagaimana manusia itu sesungguhnya, baik secara pribadi maupun dalam kaitannya dengan orang lain? Apa dan bagaimana sesungguhnya alam yang ditempati manusia? Dan apa hakikat kehidupan ini? Maka prbedaan dalam melihat ketiga hal tersebut, baik konsep maupun keterkaitannya dengan yang lain, melahirkan pula perbedaan pandangan, gagasan dan ide mengenai sistem atau kerangka berpikir. Mazhab materialisme melihat ketiga hal itu dengan pendekatan materialis, maka lahirlah sosialis dan kapitalis. Mazhab ini hanya melihat alam dan kehidupan dari aspek material dan keuntungannya secara material pula bagi manusia. Islam melihatnya dari aspek immateri, dimana aspek material dijadikan sebagai jembatan menuju kebahagiaan immateri yang abadi. Maka kerangka berpikir islami dalam melihat semua aspek kehidupan mempunyai oreantasi ukhrawi; segalanya mesti diukur dengan aspek ukhrawi tersebut. Untuk itu Islam memandang, bahwa dunia dan akhirat itu berpadu. Dan manusia dalam menjalani kehidupan ini mestinya menyatukan kedua hal tersebut, sehingga tidak terjadi komplik kepentingan dan dikotomi; di satu sisi adanya ketaatan tetapi di sisi lain munculnya kejahatan dalam peribadi yang sama.

B. Ontologi Qur'ani
Ontologi berasal dari bahasa Yunani ontologia, yaitu ilmu mengenai makhluk dan hakikatnya. Secara istilah, ontologi merupakan kajian yang berusaha menjawab masalah mengenai sifat pokok hal ihwal, apakah sesuatu itu satu atau banyak atau bagaimana macamnya . Secara singkat, Haidar Bagir mendefinisikan ontologi itu sebagai "ilmu tentang hakikat yang ada, baik yang wujud maupun yang mawjūd . Berdasarkan definisi ini, dapat ditegaskan bahwa ontologi merupakan suatu kajian filsafat yang berkaitan dengan hakikat (māhiyah) sesuatu; apa hakikat kenyataan ini sebenarnya? Dari mana ia berasal, bagaimana keberadaannya, dan kemana ia berakhir? Atau dengan kata lain, bahwa ontologi berkaitan dengan filsafat wujud. Ia mengkaji tentang hakikat alam; dari mana alam dan segala isinya ini berasal, bagaimana keterkaitan antara suatu wujud dengan wujud lainnya, serta bagaimana wujud-wujud itu akan berakhir? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu dilontarkan seputar ontologi.
Terdapat dua mazhab yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Pertama naturalisme, yaitu suatu aliran berpandangan bahawa gejala-gejala alam disebabkan oleh kekuatan yang ada pada alam itu sendiri. Untuk menghindar dari gejala-gejala alam yang dapat membahayakan manusia, ia perlu dipelajari dan manusia harus menyesuaikan diri dengan hukum alam yang berlaku pada gejala tersebut. Menurut paham ini, tidak ada kaitan antara fenomena alam dengan kekuatan ghaib. Kejadian hidup dan mati, misalnya, merupakan gejala alami sesuai dengan hukum alam tersebut. Seolah-olah aliran ini menafikan pranan Tuhan dalam suatu pristiwa atau gejala alam. Menjaga kelestarian alam dan menghindarkan kerusakannya, yang juga berakibat buruk kepada manusia, dapat dilakukan dengan pendekatan ilmiah secara empirik. Dan kebahagiaan yang paling utama bagi manusia adalah kebahagiaan material. Maka tidak perlu aturan-aturan normatif religius bagi manusia. Moral hanya diartikan kepada hal-hal yang disepakati manusia untuk mendukung kebahagian material tersebut. Paradigma seperti ini melahirkan pergaulan bebas, hedonisme dan tindakan amoral lainnya.
Al-Qur'an menyebut aliran ini dengan al-dahr atau kaum dahriah; "wa qalū mā hiya illā hayātunā al-dunyā namūtu wa nahya wa mā yuhlikunā illā al-dahr" . Menurutnya, kehidupan dan kematian hanyalah pristiwa alam; tidak ada kebangkitan dan perhitungan. Mereka mengingkari hari kebangkitan; alam ini berputar silih berganti, suatu bangsa musnah kemudian digantikan oleh bangsa lain. Tidak ada kiamat, pendapat mereka ini sama dengan pendapat para filosof yang mengingkari adanya Pencipta. Mereka berkeyakinan, bahwa setiap 36000 tahun segala sesuatu akan kembali seperti semula. Hal ini terus terjadi tanpa henti .
Aliran naturalisme ini melahirkan paham materialisme dan empirisme. Sesuatu itu dianggap berguna jika menguntungkan kepada manusia secara material, demikian pula sebaliknya. Dan suatu kajian dapat dikatakan ilmiah jika dapat dialami atau dideteksi oleh indera manusia. Dan bahkan, paham natualisme ini jugalah yang membidani lahirnya sosialime dan kapitalisme, dalam dunia ekonomi. Maka kajian-kajian agama tidak dianggap ilmiah, apa lagi kajian ketuhanan. Paham ini tidak sekedar hanya dalam pemikiran manusia, tetapi juga mempengaruhi motivasi kerja dan tindakan. Maka segala bantuan hanya diberikan jika menguntungkan kepada sipemberi baik secara fisik maupun non-fisik, walaupun selalu diucapkan atas nama kemanusiaan tetapi tidak dapat dipungkiri mesti ada umpan balik yang diharapkan melalui bantuan tersebut.
Kedua supranaturalisme, mazhab ini berpendapat, bahwa alam ini tergantung dan diatur oleh sesuatu yang ghaib. Ia lebih tinggi atau lebih kuasa dari alam nyata. Ujud yang bersifat ghaib inilah yang mengatur alam; bencana alam, penyakit, kesenangan dan kebahagiaan yang didapati manusia bersumber dan ditentukan oleh yang ghaib tersebut. Justru itu, muncullah sesembahan dan pemujaan kepada hal yang ghaib dalam rangka menghindarkan penyakit dan segala yang tidak diinginkan, walaupun bertentangan dengan rasio.
Islam mengakui yang ghaib dan pranan yang dimainkannya mengatur alam dan segala isinya, sehingga ketakwaan sebagai karakteristik manusia paripurna diukur dengan keberimanannya kepada yang ghaib tersebut. Namun di sisi lain Islam juga mengakui kekuatan yang terdapat pada alam seperti yang diyakini oleh kaum naturalisme. Tetapi, kekuatan yang terdapat pada alam tetap bergantung kepada Yang Ghaib tersebut. Atau dengan kata lain, Islam mengakui hukum alam, tetapi hukum alam itu dibuat dan ditentukan oleh Tuhan. Tumbuh-tumbuhan, misalnya, tidak bisa hidup dan berbuah tanpa air, karena memang ada sistem yang mengatur bahwa kehidupan tumbuhan itu tergantung kepada air. Dan yang menetapkan sistem ketergantungan itu adalah Allah swt. Al-Qur'an menjelaskan :
Dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu Dia keluarkan buah-buahan dengan sebab hujan tersebut .
Jadi, dalam perspektif Islam, segala wujud ini tergantung kepada Allah dan ditentukan oleh-Nya, baik wujud fisik maupun wujud hubungan antar fisik. Tidak ada wujud yang tidak tergantung kepada Tuhan. Ibn Sina membagi wujud ini kepada dua macam, yaitu wājib al-wujūd dan mumkin al-wujūd. Yang pertama wujud yang tidak tergantung dengan wujud lain. Wujud-Nya merupakan wujud mutlak, di mana wujud lain-Nya tergantung kepada-Nya. Dan yang terakhir wujud nisbi, keberadannya tergantung kepada wājib al-wujūd; wujudnya tidak akan pernah muncul tanpa kehendak wujud mutlak atau wājib al-wujūd. Alam, manusia dan kehidupan ini merupakan wujud yang mumkin al-wujūd.
Dalam al-Qur’an ditegaskan, bahwa salah satu sifat Allah itu adalah al-Samad, seperti yang tergambar dalam surat al-Ikhlās ayat 2, yaitu Allah al-Samad. Kata tersebut berarti al-sayd al-maqsūd fī qadā’ al-hājāt (Tuan yang dituju dalam rangka memenuhi segala kebutuhan). Jadi, alam dalam arti luas, yaitu “segala yang ada selain Allah’ (kullu mā siwa Allah), mempunyai ketergantungan kepada Allah. Banyak bentuk dan aspek ketergantungan alam itu kepada Allah, yaitu ketergantungan penciptaan (`alāqah al-khalq), ketergantungan penganturan (`alāqah al-tadbīr), dan khusus bagi manusia terdapat pula ketergantungan pelimpahan ilmu (`alāqah fyd al-`ilm). Mengenai yang terakhir ini akan dibahas dalam bagian epistemology.
Allah sebagai pencipta segala yang mawjūd ini. Ada dua macam mawjūd di alam ini. Pertama benda-benda yang terdapat di alam, baik alam al-shahādah ataupun alam al-ghayb. Di alam syahadah terdapat manusia, tumbuhan, binatang, benda angkasa, dan lain sebagainya. Banyak ayat al-Qur’an yang mengambarkan penciptaan langit dan bumi serta segala isinya oleh Allah swt. Dan di alam ghaib terdapat malaikat, sorga, neraka, dan lain sebagainya. Wujud semua ini bergantung Allah; Dialah yang mewujudkan dan meniadakannya. Maka wujud dan tiadanya bergantung kepada Tuhan.
Kedua, Tuhan menciptakan atau menetapkan keterkaitan atau saling ketergantungan antar benda-benda yang ada ini. Allah menciptakan makhluk hidup dan menciptakan air, misalnya, serta juga menciptakan ketergantungan makhluk hidup kepada air. Allah menciptakan api dan juga menciptakan system membakar pada api. Ketergantungan itu merupakan suatu sistem yang juga Allah ciptakan. Dia tidak hanya mencipta benda yang ada di alam ini, tetapi juga menciptakan sistem yang berlaku pada benda tersebut. Dia tidak hanya menciptakan alam, tetapi juga hukum alam. Sistem atau hukum yang telah diciptakan-Nya, jika Dia menghendaki pada kasus-kasus tertentu, bisa Dia ubah. Jika ini terjadi, maka inilah yang disebut dengan mu`jizat, karamat, dan ma`unah. Al-Qur`an menegaskan waja`alnā mina al-mā’i kulla shay’in hayyin (Kami-lah yang menjadikan segala makhluk hidup itu dari air) . Dalam surat yang lain ditegaskan pula:
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman .
Dengan tegas terlihat dalam ayat di atas system ketergantungan tumbuh-tumbuhan kepada air, tetapi kendali utama tetap berada pada Allah. Jadi, Tuhan tidak hanya menciptakan benda-benda yang ada tetapi Dia juga mencipta system yang berlaku pada semua yang maujud ini.
Selain ketergantungan penciptaan, segala yang mawjud ini juga memiliki ketergantungan pengaturan (`alāqah al-tadbīr) kepada Allah. Alam dan segala isinya secara terus menerus berada dalam pengaturan-Nya. Dalam al-Qur’an banyak digunakan istilah tadbīr, yang dapat diartikan kepada mengatur atau pengaturan. Kata tersebut dalam al-Qur’an terulang sebanyak lima kali, empat dalam bentuk fi`il mudāri` dan satu lainnya dalam bentuk isim fa`il, yaitu yudabbir dan al-mudabbirāt. Keempat istilah yudabbir (dalam sighat fi`il mudari`) itu dinisbatkan kepada Allah. Sedangankan kata al-mudabbirāt (sighat isim fa`il jama` mu’annas) dinisbatkan kepada malaikat, yaitu fa al-mudabbirāti amra (Dan malaikat-malaikat yang mengatur urusan dunia). Al-Sābuni menafsirkan ayat itu kepada al-malā’ikatu tudabbir shu’ūn al-kawn bi amrihi ta`āla fi al-riyīhi, wa al-amtār, wa al-arzāq wa al-‘a`amār … wa ghayri dhalika min shu’ūn al-dunyā . Hal ini bermakna, bahwa kendali utama pengaturan dan keteraturan alam ini berada pada Allah. Penggunaan fi`il mudari` dalam menerangkan pengaturan terhadap segala mawjud ini yang dinisbatkan kepada Tuhan mengisyaratkan bahwa pengaturan itu berlaku secara kontinyu atau istimrār.
Perbincangan di atas menunjukkan, bahwa alam fisik (`alam al-shahādah) dapat dikategorikan kepada tiga aspek, yaitu manusia, alam, dan kehidupan. Ketiga wujud ini merupakan sesuatu yang maujud, dimana wujudnya mempunyai ketergantungan kepada wujud mutlak yaitu Tuhan. Keberadaannya hanya bersifat mungkin tidak bersifat wajib, sebab wujudnya mempunyai ketergantungan kepada Wujud Mutlak. Dan sesuatu yang wujudnya tergantung kepada wujud lain, keberadaannya sama dengan tiada sesuai dengan kehendak yang mewujudkannya. Ketika ia telah diwujudkan, maka ia mempunyai kewajiban terhadap yang mewujudkannya itu.
Segala yang maujud, jika dilihat dari dimensi waktu dan tempat, dapat dikategorikan kepada dua macam yaitu sesuatu yang berada pada alam al-shahādah yang dapat dikaji secara empiris dan sesuatu yang berada pada `alam al-ghayb yang tentu saja tidak dapat dikaji secara empiris. Keberadaannya hanya dapat dibuktikan dengan rasional dan pemberitahuan dari yang mewujudkannya.
Dan apabila dilihat dari aspek kepatuhanya, semua yang maujud ini dapat pula dikategorikan kepada wujud ijbāri (wujud yang tidak mempunyai pilihan atau wujud keterpaksaan) dan wujud ikhtiyāri (wujud yang memiliki pilihan). Termasuk dalam kategori wujud pertama semua makhluk selain manusia dan jin. Mereka tidak mempunyai pilihan selain menuruti ketentuan Allah. Al-Qur’an menyebutkan :
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki .
Dalam surat lain ditegaskan pula:
Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan .
Jadi, makhluk-makhluk itu termasuk malaikat tidak mempunyai pilihan selain menuruti ketetapan-Nya.
Manusia dalam dimensi fisik atau jasmaniahnya juga termasuk makhluk ijbāri. Artinya, secara fisik manusia tidak dapat menolak ketentuan yang diberlakukan terhadapnya baik secara internal pribadinya ataupun eksternal, yaitu kaitannya dengan alam di luar dirinya. Manusia, misalnya, tidak dapat menolak kematian, sakit, perubahan fisik kecuali dengan menggunakan system yang juga telah ditetapkan-Nya. Tetapi dalam dimensi rohaniah manusia diberi hak memilih antara tunduk dan tidak tunduk kepada aturan normative yang telah Tuhan ciptakan. Dan pilihan manusia itu mempunyai konsekuensi terhadap dirinya.
Al-Qur'an memandang bahwa manusia, alam, dan kehidupan merupakan tiga rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Ketiganya saling berkait, di mana manusia dipandang sebagai rangkaian utama yang seharusnya berusaha menjaga kelestarian rangkaian tersebut. Perlakuan manusia terhadapnya dapat merugikan atau menguntungkan manusia itu sendiri. Dan yang terpenting dalam paradigma Islam, bahwa ketiga rangkaian itu merupakan sistem yang dibangun oleh Tuhan. Maka ia tidak dapat dipisahkan dari Tuhan; semua berasal dari-Nya dan juga berakhir pada-Nya. Dalam surat al-A'rāf ditegaskan; " Dan sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu di bumi dan Kami jadikan kehidupan untuk kamu padanya" . Jadi, al-Qur'an melihat bahwa alam dan segala isinya dibangun atas paradigma tauhid; ia berasal dari Allah dan berlau sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya baik secara tertulis dalam al-Kitab maupun terlukis di alam, dan juga menuju-Nya.
Manusia
.
Alam

Kehidupan

Skema: ontologi Qur'ani
Artinya, segala yang maujud ini berasal dari-Nya dan juga akan kembali kepada-Nya. Khusus pengembalian manusia kepada Tuhan diukur dengan sistem kehidupan yang dijalani; pergaulannya dengan alam dan bagaimana dia memaknai kehidupan yang dilewati semasa di dunia ini. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari potensi diri yang Tuhan berikan kepadanya, yang berbeda dengan maujud lain.
Hakikat manusia digambarkan al-Qur'an sebagai makhluk yang memiliki dua dimensi, yaitu dimensi tanah dan roh . Tanah menjadi jasad dalam bentuk prangkat-prangkat tubuh, yang mana prangat-prangkat itu saling berinteraksi yang mebuat jasad itu hidup. Sedangkan roh menjadi rohani yang dibekali dengan potensi yaitu akal dan kebenaran serta kejahatan dan ketidak adilan . Jasad menjadi makhluk ijbari yang tidak bisa memilih dan bahkan tidak punya kemauan, ia hanya menerima perintah, baik dari Allah melalui hukum alam yang Dia ciptakan maupun perintah dari kekuatan yang sedang bercokol pada jiwa. Sedangkan rohani merupakan makhuk ikhtiyari yang bisa memilih antara tidak dengan iya, atau antara menolak dengan menerima sesuai dengan kekuatan yang sedang menguasainya.
Alam (al-kawn) juga digambarkan sebagai makhluk ijbari. Ia hanya tunduk kepada Allah, sesuai dengan ketentuan dan aturan yang telah ditentukan-Nya. Alam tidak pernah melanggar aturan-aturan itu, kecuali Tuhan mengubah aturan tersebut. Aturan-aturan yang Allah tetapkan yang kemudian dituruti oleh alam, seperti bintang, matahari, bulan dan lain sebagainya adalah dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik terhadap manusia . Dan sebagai konsekuensi dari pelayanan tersebut, maka manusia mesti bersyukur kepada-Nya, yaitu menjadi makhluk yang mau memilih kebenaran dan keadilan.

C. Epistemologi Qur'ani
Kata epistemology berasal dari kata “episteme” dan “logos”. Yang pertama berarti teori (al-nazzāriyah) dan yang terakhir berarti ilmu. Maka istilah epistemology secara bahasa dapat diartikan kepada “teori ilmu” (nazzariyāt al-`ulūm) . Epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat. Ia membahas persoalan konsep ilmu, jenis ilmu, sumber ilmu dan batas-batas ilmu manusia . Maka yang dimaksud dengan “Epistemologi Qur'ani” dalam kajian ini adalah teori ilmu dalam perspektif al-Qur’an atau filsafat ilmu menurut pandangan Islam; bagaimana konsep ilmu, jenis ilmu, dan sumber ilmu dalam pandangan Islam.
Secara terminology, ilmu itu dapat diartikan kepada “memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku atas sesuatu itu” . Shaliba mendefinisikan ilmu itu kepada “memahami secara mutlak, baik tasawwur ataupun tasdīq dan baik yakin ataupun tidak” . Menurut Ikhwan al-Shafa’, seperti yang dikutip oleh al-Jihami, ilmu adalah “tasawwur hakikat sesuatu dan asalnya” . Berdasarkan definisi ini, dapat dijelaskan bahwa ada empat hal yang saling berkait dalam system ilmu, yaitu subjek yang memahami, objek yang dipahami, makna atau sūrah (forma) yang terkait dengan objek yang dipahami, dan berhasilnya makna atau sūrah itu dimiliki oleh subjek yang memahami. Subjek yang memahami itu adalah qalbu manusia, ia merupakan wadah penyimpanan makna-makna yang ada pada suatu objek yang dipelajari. Yang dimaksud dengan objek disini adalah segala sesuatu yang ada ini, baik empiris maupun bukan.
Dalam perspektif al-Qur'an, ilmu adalah salah satu sifat Tuhan, karena sifat inilah Dia disebut dengan `Alīm (Yang Maha Tahu). Dia adalah sumber utama ilmu pengetahuan manusia. Segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan anugerah-Nya. Ilmu Allah tidak tebatas, manusia hanya memperoleh secuil darinya. Sedalam apapun pengetahuan manusia mengenai sesuatu, ia tetap saja terbatas karena keterbatasan pikiran dan kemampuan potensi yang ada dalam jiwanya.
Karena ilmu bersumber dari Allah, maka berarti Allah-lah yang mengajar manusia dan menganugerahkan ilmu kepadanya. Banyak ayat al-Qur'an yang menegaskan bahwa Allah mengajar manusia. Di antara ayat tersebut menegaskan "Allah mengajar manusia dengan pena, Dia mengajarkan kepada manusia sesuatu yang belum diketahui . Allah mengajar manusia bertutur . Dia mengajar Nabi Muhammad sesuatu yang belum diketahui . Berdasarkan penjelasan ini, maka Allah Maha Guru bagi manusia. Dia tidak hanya sebagai Pencipta, tetapi juga mengajarnya atau sumber ilmu bagi manusia.
Ada dua cara Allah mengajar manusia, yaitu pengajaran langsung dan pengajaran tidak langsung. Pengajaran langsug adalah melalui wahyu atau ilham, seperti yang dialami oleh para nabi dan orang-orang saleh lainnya. Dan pengajaran tidak langsung adalah pengajaran melalui media, yaitu al-Kitab, fenomena alam dan potensi jiwa manusia seperti akal. Al-Ghazali menyebut yang pertama dengan istilah al-ta`līm al-rabbani dan yang terakhir dengan al-talīm al-insāni. Ketika seorang ilmuan, misalnya, menemukan suatu teori ilmiah setelah melakukan penelitian, maka itu berarti Allah telah mengajarnya melalui objek alami yang dipelajari dan potensi akal yang dimilikinya. Untuk memahami bagaimana Allah menciptakan alam dan manusia serta mengajarnya dapat dilihat dalam skema berikut :

Keterangan :
: Penciptaan

: Pewahyuan
: Penciptaan dan pelimpahan ilmu

: Pencarian ilmu

Maka dengan demikian, mengkaji ilmu pengetahuan berarti mempelajari wahyu dan fenomena alam. Keduanya merupakan "media Allah" dalam melakukan pembelajaran terhadap manusia. Ketika manusia sampai kepada suatu kesimpulan kajian atau berhasil membangun teori berdasarkan temuan kajiannya, maka dia berarti menemukan suatu hukum yang Allah diberlakukan terhadap alam.
Jadi, alam dan wahyu merupakan objek kajian manusia. Dari kedua hal inilah manusia mendapatkan ilmu pengetahuan. Alam – termasuk manusia itu sendiri – dan sistem yang berlaku padanya merupakan ciptaan dan ketentuan Allah. Demikian pula wahyu, ia merupakan pemberitahuan yang tersurat dari Allah sebagai Sang Pencipta kepada manusia, baik yang berkaitan dengan ajaran normativ maupun fenomena alam. Maka ketika manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dari hasil pengkajiannya terhadap dua hal tersebut, maka berarti manusia telah memahami sebagian dari ketentuan Allah yang terdapat padanya. Artinya, ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia tidak pernah dapat dipisahkan dari Allah sebagai sumber ilmu tersebut.
Banyak ayat al-Qur'an yang mengambarkan, bahwa Dia-lah yang mengajar manusia, tidak kurang dari 30 ayat yang memperbincangkan persoalan mengajar yang menegaskan bahwa Allah yang mengajar manusia. Maka dengan demikian, Dia-lah sumber ilmu; setiap ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia berasal dari-Nya baik ilmu naqal maupun ilmu akal.
Penguasaan ilmu dalam perspektif al-Qur'an bukan tujuan utama pembelajaran yang dilakukannya terhadap manusia. Baginya, penguasaan ilmu hanyalah sarana atau jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada pembentukan kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, dimana pada setiap aspek kehidupan yang dilewati tergantung kepada-Nya. Al-Qur'an selalu mendorong agar mengkaji segala yang ada ini. Ia berdialog dengan akal dan hati manusia, agar memperhatikan ufuq (penjuru) dan diri manusia itu sendiri. Mengkaji itu semua tidak hanya sekedar memenuhi komptensi kognitif dan rasa ingin tahu semata, tetapi mesti dikaji atau dipelajari sebagai ayat-ayat (tanda-tanda) Allah . Maka pencarian ilmu pada hakikatnya identik dengan penanaman dan pengembangan iman.
Perbincangan di atas, selain mengambarkan sumber ilmu, juga mengambarkan sumber belajar. Ada dua hal yang menjadi sumber belajar bagi manusia, dimana melalui kedua sumber tersebutlah manusia mendapatkan ilmu yaitu wahyu dan alam. Dengan mempelajari kedua hal itu manusia dapat mengakses ilmu pengetahuan. Maka berdasarkan sumber belajar ini, Ibn Khaldun membagi ilmu itu kepada ilmu naqal dan ilmu `aqal. Yang pertama bersumber dari wahyu dan yang terakhir bersumber dari alam.
Maka wahyu merupakan kalamullah dan alam adalah af`ālullah. Berdasarkan ini dapat pula dikatakan, bahwa penjelasan wahyu tidak akan pernah bertentangan dengan temuan-temuan ilmiah. Sebab, tidak mungkin perkataan Allah bertentangan dengan perbuatan-Nya. Jika ditemukan adanya pertentangan, maka dapat dipastikan telah terjadi kekeliruan dalam memhami wahyu atau fenomena alam. Dari kedua sumber belajar inilah munculnya berbagai cabang-cabang ilmu pengetahuan. Dari kajian terhadap wahyu lahirlah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kajian keislaman yang meliputi `aqidah tauhid, fiqih, dan akhlak serta segala macam ilmu yang berkaitan dengannya termasuk dorongan mengkaji alam semesta dan segala isinya. Dan dari mempelajari alam lahir pula ilmu-ilmu sosial dan eksakta.
Ilmu dalam perspektif Islam, baik yang diakses dari wahyu ataupun alam, adalah berpadu pada sumber dan tujuan tetapi berbeda dalam karakteristik dan pemanfaatannya secara duniawi. Sumbernya jelas, sebagaimana yang telah dibahas, yaitu Allah dan tujuannya ialah mengantarkan manusia kepada kemurnian tauhid dan perolehan hidayah yang pada akhirnya mewujudkan pribadi yang shaleh, baik pertikal maupun horizontal dan puncaknya kebahagiaan abadi bagi pribadi yang berlimu tersebut. Secara eksplisit, hal itu dapat dilihat dalam pernyataan al-Qur’an :
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak memperhatikan bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?. Dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka dan telah kami jadikan (pula) di bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk .
Dan dalam hal karakteristik serta pemanfaataannya, ilmu-ilmu itu berbeda antara satu dari yang lain. Berdasarkan perbedaan karakteristik itu, ilmu dapat dikategorikan dalam berbagai bidang, demikian pula dalam hal pemanfaatan.

D. Aksiologi Qur'ani
Perbincangan di atas mengambarkan begitu eratnya kaitan ilmu dengan tauhid. Akidah tauhid dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan. Atau dengan kata lain, ilmu pengetahuanlah yang membangun keimanan. Itulah sebabnya, sebelum segala sesuatu yang menyangkut ajaran Islam – baik perintah maupun larangan – dibebankan kepada manusia, maka yang pertama sekali ditekankan adalah agar banyak membaca. Karena membaca menghasilkan ilmu dan ilmu menghasilkan keimanan kepada Allah. Tentu saja yang dimaksud dengan ilmu disini segala jenis ilmu pengetahuan, yaitu baik ilmu-ilmu alam, sosial, maupun kajian normativ Islam.
Jadi, ilmu dalam perspektif al-Qur'an merupakan suatu rangkaian yang mengacu kepada keimanan dan penyadaran diri seorang ilmuan sebagai makhluk Allah, yang mempunyai ketergantungan pribadi dan sosial secara mutlak kepada Tuhan. Jika ilmu dipahami dalam kerangka seperti ini, maka ilmu sangat berguna bagi manusia. Ia tidak akan mencederai manusia itu sendiri, bahkan bertambahnya ilmu maka bertambah pula kedamaian, kesejahteraan, ketenteraman, dan keharmonisan. Karena ilmu dalam kerangka ini selain menghasilkan teknologi untuk keperluan hidup manusia, ia juga membangun moral, keperdulian kepada orang lain serta tenggang rasa.
Persoalan utama yang dihadapi manusia dewasa ini bukanlah masalah krisis ekonomi, teknologi, sumber daya alam, dan tidak pula krisis sumber daya manusia dalam bidang keilmuan. Masalah yang amat besar adalah krisis moral dan kesantunan dalam bertutur sapa, berpikir, dan bergaul dengan alam. Krisis moral ini melahirkan bencana yang amat banyak, mulai dari bencana alam sampai kepada bencana ekonomis. Padahal ilmu pengetahuan manusia sudah sangat maju, seolah-olah terlihat bahwa ilmu tidak mempunyai korelasi yang signifikan dengan moral.
Dalam pandangan al-Qur’an ilmu sebenarnya diharapkan dapat mengubah sikap dan moral menjadi lebih baik. Al-Qur’an menafikan persamaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Penafian itu pada hakikatya tidak hanya terletak pada kompetensi keilmuan saja tetapi juga terletak pada moral bahkan hal itu lebih utama. Kitab Suci itu menyebutkan :
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran .
Banyak ayat al-Qur’an yang mengambarkan, bahwa idealnya ilmu mendatangkan efek positif terhadap kehidupan, baik secara material maupun immateri. Seyogyanya ilmu menjadi sarana untuk mendapatkan perlindungan Tuhan, menghindarkan kezaliman dan perpecahan, melahirkan ketundukan, dan mendatangkan hidayah sehingga manusia beroleh kenyaman dalam menjalani kehidupan ini. Tetapi, memang diakui pula bahwa justru terkadang ilmu berdampak negative.
Maka yang menjadi persoalan adalah bagaimana caranya agar ilmu hanya melahirkan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia dan membuat manusia menjadi pribadi yang shaleh? Jawabannya adalah perlu prombakan pradigma belajar. Belajar segala macam ilmu pengetahuan perlu dibangun atas akidah dan kepercayaan kepada Tuhan. Dalam pandangan Islam, system pendidikan dan pembelajaran perlu dibangun atas prinsip ontology dan epistemology al-Qur’an, seperti yang telah dipaparkan di atas.

E. Penutup
Pendidikan sebagai suatu lembaga yang amat bertanggung jawab dalam mencetak sumber daya manusia dan pewarisan ilmu pengetahuan perlu dibangun atas prinsip ontology dan epistemology Qur`ani. Visi, misi, tujuan sampai kepada penentuan kurikulum mestinya mengacu kepada hal tersebut. Hal ini sangat perlu dalam rangka melahirkan ilmuan yang bermoral dan berakhlak mulia.




والله أعلم بالصواب
























DAFTAR KEPUSTAKAAN



Al-Qur'an al-Karim

Afzalur Rahman. 1981. Al-Qur'an dalam Berbagai Disiplin Ilmu (terjemahan). Jakarta: LP3S

al-Aqqad, Abbas Mahmud. 1986. Filsafat al-Qur'an; Filsafat, Spritual dan Sosial dalam Isyarat al-Qur'an (terjemahan). Jakarta: Pustaka Pirdaus.

Badawi, Abd al-Rahman. 1969. Falsafah al-`Usūr al-Wustā. Kairo: Maktabah al-Nahdah al-Misriah.

Haidar Bagir. 2005. Buku Saku Filsafat Islam. Bandung: Mizan

al-Husayni, Abd al-Muhsin. t.th. Al-Ma`rifah `ind al-Hakīm al-Tirmīdhi. Kairo: Dar al-Katib.

Ibn Kathir, `Imad al-Din Abi al-Fida' Isma`il. t.th. Tafsīr al-Qur'an al-`Azīm. Semarang; Thaha Putra.

Jamil Saliba. 1973. Al-Mu`jam al-Falsafi Jilid I. Bairut; Dar al-Kutub al-Lubnani.

Jirar al-Jihami. 1998. Mawsū`ah Mustalahāt al-Falsafah `ind al-`Arab. Libanon; Maktabah Libanon.

Jujun S. Suriasumantri. 1993. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Jurjani, Ali bin Muhamad. 1988. Kitāb al-Ta`rifāt. Bairut: Dar al-Kutub al-cIlmiah.

Kadar Muhammad Yusuf. Epistemologi Qur'ani dan Orientasi Pendidikan. Jurnal Potensia Volume 4 Nomor 1 Juni 2005.

Kadar Muhammad Yusuf. 2005. Pembelaan al-Qur’an Kepada Kaum Tertindas. Jakarta; Amzah.

al-Raghib al-Isfihani. 2001. Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān. Bairut; Dar al-Ma`rifah.

Mukhtar Effendy. 2001. Ensiklopedi Agama dan Filsafat. t.tp: PT. Widyadara.

Musa, M. Yusuf. 1988. Al-Qur'an dan Filsafat (terjemahan). Jakarta: Bulan Bintang.

Nicholas Capaldi. 1981. An Invitation of Philosophy. Buffalo New York; Prometheus Books.

al-Sabuni, Muhammad `Ali. t.th. Safwah al-Tafāsīr Jilid III. Bairut; Dar al-Jayl.

Usman, Abd al-Karim. t.th. Al-Nizām al-Siyāsi fī al-Islām. Bairut: Dar al-Irsyad.

Zakaria Stapa. at all. (Editor). 2001. Islam, Akidah dan Kerohanian. Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.





























Perbincangan di atas menunjukkan begitu pentingnya pranan al-Qur'an dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Tetapi apakah tanpa Islam ilmu tidak akan maju? Pertanyaan yang sama juga dikemukakan oleh Yusuf Musa. Dia mengatakan : apakah Islam itu suatu keharusan atau tidak? Apakah orang-orang Barat itu menjadi merana karena tidak mengetahui al-Qur'an? . Yang jelas kemajuan ilmu pengetahuan pada saat ini di dunia Barat tidak ada sangkut pautnya dengan al-Qur'an. Teori-teori ilmiah yang mereka temukan, terutama bagi mereka yang tidak beragama Islam, tidak berangkat dari al-Qur'an dan juga tidak didasarkan oleh dorongan al-Qur'an. Meskipun teori-teori itu selalu terlihat sesuai dengan penjelasan al-Qur'an, karena memang alam yang dikaji merupakan ciptaan Allah sebagaimana juga al-Qur'an merupakan pesan-pesan ilahaih tertulis yang tentu saja tidak mungkin bertentangan antara pernyataan-Nya dalam tulisan dengan pernyataan-Nya dalam perbuatan.
Maka yang terpenting di sini bukan bagaimana al-Qur'an berbicara tentang teori ilmiah dan bagaimana temuan-temuan ilmiah sesuai dengan pernyataannya. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana paradigma atau bangunan ilmu itu dalam pandangan Kitab Suci tersebut, yang kemudian mengilhami kegiatan ilmiah umat Islam masa lalu. Dari bangunan kerangka itulah mereka berangkat melakukan penelitian-penelitian ilmiah, sehingga ilmu terlihat betul-betul menyatu dalam suatu kerangka tidak terkotak-kotak seperti sekarang yaitu kerangka tauhid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar